Makalah: Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat Perkotaan
ILMU SOSIAL DASAR
“MASYARAKAT PERKOTAAN DAN MASYARAKAT
PEDESAAN”
Disusun oleh:
Crislie Santoso (51418581)
1IA11
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
KATA PENGANTAR
Segala puji
syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT hingga saat ini masih memberikan
nafas kehidupan dan anugerah akal, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan
makalah ini dengan judul “Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan” tepat
pada waktunya. Terimakasih pula kepada semua pihak yang telah ikut membantu hingga
dapat disusunnya makalah ini.
Makalah sederhana ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar. Akhirnya saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi diri saya sendiri dan khususnya pembaca pada umumnya.
Akhir kata, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan kekurangan. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat saya harapkan dari para pembaca guna peningkatan kualitas makalah ini dan makalah-makalah lainnya pada waktu mendatang.
Makalah sederhana ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial Dasar. Akhirnya saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi diri saya sendiri dan khususnya pembaca pada umumnya.
Akhir kata, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan kekurangan. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat saya harapkan dari para pembaca guna peningkatan kualitas makalah ini dan makalah-makalah lainnya pada waktu mendatang.
Depok,
November 2018
Penulis
Daftar
Isi
Kata Pengantar....................................................................................................................... 1
Daftar Isi................................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................................ 3
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................... 3
1.3 Manfaat Penulisan....................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Desa / Pedesaan........................................................................................ 4-5
2.2 Ciri-ciri Masyarakat Pedesaan.................................................................................... 5-6
2.3 Pengertian Kota / Perkotaan........................................................................................ 6
2.4 Ciri-ciri Masyarakat Perkotaan................................................................................... 7-8
2.5 Hubungan Desa dan Kota............................................................................................ 8-9
2.6 Perbedaan Masyarakat Pedesaan dengan
Masyarakat Perkotaan............................... 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................................. 10
3.2 Saran....................................................................................................................... 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Masyarakat pedesaan di Indonesia tergolong masyarakat yang sangat jauh
tertinggal, hal ini disebabkan keberedaan wilayah yang jauh dari pusat
pembangunan nasional, bahkan hampir tidak tersentuh oleh pembangunan nasional.
Beberapa metode dan pendekatan telah dikembangkan untuk memahami masalah dan
membantu merumuskan kebijakan guna memecahkan masalah pembangunan pedesaan.
Sejak tahun 1970an para pakar banyak yang memanfaatkan metode, pendekatan, dan
logika berfikir survei verifikatif dalam meriset masalah sosial masyarakat
pedesaan.
Di Indonesia, pertumbuhan penduduk semakin meningkat, terutama di daerah
perkotaan. Banyak masyarakat desa mencari kehidupan yang lebih baik di
perkotaan. Mereka berfikir bahwa di perkotaan adalah sumber mata pencaharian
terbesar dibandingkan di pedesaan. Mereka juga menganggap bahwa kehidupan di
kota lebih baik daripada di desa. Namun, pada kenyataannya kehidupan di kota
tidak sebaik yang mereka bayangkan. Dalam hal ini penulis akan membahas
dan menjelaskan tentang ruang lingkup perbedaan masyarakat pedesaan dengan masyarakat
kota
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud desa
/ pedesaan?
2.
Bagaimana ciri-ciri
masyarakat pedesaan?
3.
Apa yang dimaksud kota?
4.
Bagaimana
ciri-ciri masyarakat perkotaan?
5.
Apa hubungan desa
dan kota?
6.
Apa saja perbedaan
masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan?
1.3
Manfaat Penulisan
1.
Mengetahui
pengertian pedesaan dan perkotaan.
2.
Mengetahui
ciri-ciri masyarakat pedesaan dan perkotaan.
3.
Memahami hubungan
desa dan kota.
4.
Mengetahui
perbedaan masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Desa / Pedesaan
Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau
kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat
itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan
daerah lain.
Sedangkan
menurut Paul H. Landis : Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan
ciri ciri sebagai berikut :
- Mempunyai
pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
- Ada pertalian
perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
- Cara berusaha
(ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam
seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang
bukan agraris adalah bersifat sambilan.
Dalam kamus sosiologi kata tradisional dari bahasa
Inggris, Tradition artinya Adat istiadat dan kepercayaan yang turun menurun
dipelihara, dan ada beberapa pendapat yang ditinjau dari berbagai segi bahwa,
pengertian desa itu sendiri mengandung kompleksitas yang saling berkaitan satu
sama lain diantara unsur-unsurnya, yang sebenarnya desa masih dianggap sebagai
standar dan pemelihara sistem kehidupan bermasyarakat dan kebudayaan asli
seperti tolong menolong, keguyuban, persaudaraan, gotong royong, kepribadian
dalam berpakaian, adat istiadat , kesenian kehidupan moral susila dan lain-lain
yang mempunyai ciri yang jelas.
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian
desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat,
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati
dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari defenisi tersebut, sebetulnya desa merupakan
bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan
satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama
ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan
eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa
ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.
Memang hampir semua kebijakan pemerintah yang
berkenaan dengan pembangunan desa mengedepankan sederet tujuan mulia, seperti
mengentaskan rakyat miskin, mengubah wajah fisik desa, meningkatkan pendapatan
dan taraf hidup masyarakat, memberikan layanan social desa, hingga
memperdayakan masyarakat dan membuat pemerintahan desa lebih modern. Sayangnya
sederet tujuan tersebut mandek diatas kertas.
2.2 Ciri-ciri Masyarakat Pedesaan
Talcot Parsons menyamakan masyarakat desa sebagai
masyarakat Gemeinschaft, yaitu masyarakat yang mempunyai
karakteristik:
a. Afektifitas
Setiap individu memiliki perasaan saling sayang dan
peduli satu sama lain. Hal ini kemudian berdampak terhadap sikap dan budaya
saling tolong menolong, bersimpati pada musibah yang diderita tetangga, dan
menolong tanpa pamrih.
b. Orientasi kolektif
Mendahulukan kebersamaan, mereka kurang suka
menonjolkan diri, banyak yang tidak suka konflik (perbedaan pendapat), semua
orang memperlihatkan keseragaman dalam persamaan.
c. Partikularisme
Lebih menunjukan sifat sangat subyektif, kebersamaan
yang mementingkan kelompok mereka sendiri jika ada serangan dari luar.
(lawannya Universalisme)
d. Askripsi
Adat atau budaya yang sudah menjadi kebiasaan secara
turun temurun terus dijaga. (lawannya prestasi)
e. Kekabaran
Untuk menjaga harmoni, kebanyakan masyarakat desa
menggunakan komunikasi bahasa tidak langsung. Baik ketika menunjukkan sesuatu,
mengingatkan dan menegur.
2.3 Pengertian Kota / Perkotaan
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community.
Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta
ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap
ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu; kehidupan keagamaan berkurang
bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa orang kota pada umumnya
dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang
penting disini adalah manusia perorangan atau individu. Di kota – kota
kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan
paham politik, perbedaan agama dan sebagainya. Jalan pikiran rasional yang pada
umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi – interaksi
yang terjadi lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor pribadi.
pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai
batas-batas yang nyata kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga
lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa, interaksi yang terjadi
lebih banyak berdasarkan pada factor kepentingan daripaa factor pribadi
pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar
kebutuhan individu perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota,
sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.
Masyarakat perkotaan biasa nya lebih cepat menyerap
trend yang sedang booming atau biasa disebut “gaul”. Tetapi
terkadang masyarakat perkotaan tidak memilih trend yang baik, jadi jika
sedang booming langsung menyerapnya tanpa memikirkan baik atau
tidak nya. Maka nya kadang jika melihat masyarakat kota yang seperti itu
terlihat aneh bahkan lucu.
2.4 Ciri-ciri Masyarakat Perkotaan
Beberapa ciri sosial kehidupan masyarakat kota, antara
lain:
- Pelapisan
Sosial Ekonomi
Perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat
menimbulkan suatu keadaan yang heterogen. Heterogenitas tersebut dapat
berlanjut dan memacu adanya persaingan, lebih-lebih jika penduduk di kota
semakin bertambah banyak dan dengan adanya sekolah-sekolah yang beraneka ragam
terjadilah berbagai spesialisasi di bidang keterampilan ataupun di bidang jenis
mata pencaharian.
- Individualisme
Perbedaan status sosial-ekonomi maupun kultural dapat
menimbulkan sifat “individualisme”. Sifat kegotongroyongan yang murni sudah
sangat jarang dapat dijumpai di kota. Pergaulan tatap muka secara langsung dan
dalam ukuran waktu yang lama sudah jarang terjadi, karena komunikasi lewat
telepon sudah menjadi alat penghubung yang bukan lagi merupakan suatu
kemewahan. Selain itu karena tingkat pendidikan warga kota sudah cukup tinggi,
maka segala persoalan diusahakan diselesaikan secara perorangan atau pribadi,
tanpa meminta pertimbangan keluarga lain.
- Toleransi
Sosial
Kesibukan masing-masing warga kota dalam tempo yang
cukup tinggi dapat mengurangi perhatiannya kepada sesamanya. Apabila ini
berlebihan maka mereka mampu akan mempunyai sifat acuh tak acuh atau kurang
mempunyai toleransi sosial. Di kota masalah ini dapat diatasi dengan adanya
lembaga atau yayasan yang berkecimpung dalam bidang kemasyarakatan.
- Jarak Sosial
Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya
dapat dikatakan cukup tinggi. Biasanya sudah melebihi 10.000 orang/km2. Jadi,
secara fisik di jalan, di pasar, di toko, di bioskop dan di tempat yang lain
warga kota berdekatan tetapi dari segi sosial berjauhan, karena perbedaan
kebutuhan dan kepentingan.
- Pelapisan
Sosial
Perbedaan status, kepentingan dan situasi kondisi
kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda
mengenai gejala-gejala yang timbul di kota. Penilaian dapat didasarkan pada
latar belakang ekonomi, pendidikan dan filsafat. Perubahan dan variasi dapat
terjadi, karena tidak ada kota yang sama persis struktur dan keadaannya.
2.5 Hubungan Desa dengan Kota
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua
komonitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang
wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan,
karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada dalam memenuhi
kebutuhan warganya akan bahan bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging
dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi bagi jenis jenis
pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek proyek
perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan
tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja pekerja musiman. Pada saat
musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian
mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat
untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
“Interface”, dapat diartikan adanya kawasan perkotaan
yang tumpang-tindih dengan kawasan perdesaan, nampaknya persoalan tersebut
sederhana, bukankah telah ada alat transportasi, pelayanan kesehatan, fasilitas
pendidikan, pasar, dan rumah makan dan lain sebagainya, yang mempertemukan
kebutuhan serta sifat kedesaan dan kekotaan.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami
yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar
suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Salah satu bentuk hubungan antara kota dan desa adalah
:
a.
Urbanisasi dan Urbanisme
Dengan adanya hubungan Masyarakat Desa dan Kota
yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah
masalah baru yakni ; Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari
desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses
terjadinya masyarakat perkotaan.(soekanto,1969:123 )
b.
Sebab-sebab Urbanisasi
- Faktor-faktor
yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya (Push
factors)
- Faktor-faktor
yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota
(pull factors)
Hal
– hal yang termasuk factor pendorong antara lain :
- Bertambahnya
penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian,
- Terdesaknya
kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
- Penduduk
desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang
ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
- Didesa tidak
banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
- Kegagalan
panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama,
kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari
penghidupan lain dikota.
2.6 Perbedaan Masyarakat Pedesaan dan Masyarakat
Perkotaan
1. Lingkungan Umum dan
Orientasi Terhadap Alam, masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam,
karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan
banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang
tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2. Pekerjaan atau Mata
Pencaharian, pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani
tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah
pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3. Ukuran Komunitas, komunitas
perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4. Kepadatan Penduduk, penduduk
desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk
kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi
dari kota itu sendiri.
5. Homogenitas dan
Heterogenitas, homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis,
bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa
bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya
heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa,
penduduk di kota lebih heterogen.
6. Diferensiasi Sosial, keadaan
heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dlm
diferensiasi sosial.
7. Pelapisan Sosial, kelas
sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu
kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada
diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Manusia menjalani kehidupan didunia ini tidaklah
bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri dalam artian butuh bantuan dan
pertolongan orang lain. Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah
menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita
kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya
itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang
ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini,
kesenjangan Sosial, yang kaya makin Kaya dan yang Miskin tambah melarat ,
mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya
(dekadensi moral ) hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena
kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu
ada pada lingkungan dimana kita tinggal.
Sehubungan dengan itu, barangkali kita berprasangka
atau mengira fenomena-fenomena yang terjadi diatas hanya terjadi dikota saja,
ternyata problem yang tidak jauh beda ada didesa, yang kita sangka adalah
tempat yang aman, tenang dan berakhlak (manusiawi), ternyata telah
tersusupi oleh kehidupan kota yang serba boleh dan bebas itu disatu pihak
masalah urbanisasi menjadi masalah serius bagi kota dan desa, karena masyarakat
desa yang berurbanisasi ke kota menjadi masyarakat marjinal dan bagi desa
pengaruh urbanisasi menjadikan sumber daya manusia yang produktif di desa
menjadi berkurang yang membuat sebuah desa tak maju bahkan cenderung
tertinggal.
3.2 Saran
Pembangunan
Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa
yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota
tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya
sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok
untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota
maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius.
Problem itu tidak akan menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus
terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan
pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga
menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada
seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota
dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
https://wargamasyarakat.org/masyarakat-pedesaan/
Komentar
Posting Komentar