Ilmu Sosial Dasar

Hallo readers, sekarang saya ingin membagikan informasi kepada para readers mengenai Ilmu Sosial Dasar. Sebelum kita mengetahui tujuan mempelajari Ilmu Sosial Dasar ada baiknya kita mengerti apa arti dari Ilmu Sosial Dasar itu sendiri.

     Ilmu Sosial Dasar adalah pengetahuan yang mempelajari tentang masalah-masalah sosial, khususnya yang diwujudkan oleh masyarakat Indonesia dengan menggunakan berbagai macam pengertian seperti fakta, konsep maupun teori. Hal tersebut bisa berasal dari berbagai bidang pengetahuan dalam ilmu-ilmu sosial misalkan: sejarah, ekonomi, geografi sosial, sosiologi, antropologi dan psikologi sosial.


     Ilmu Sosial Dasar merupakan suatu bahan studi atau Program Pengerjaan yang khusus dirancang untuk kepentingan pendidikan/pengajaran yang diberikan di Perguruan Tinggi di Indonesia. Mata kuliah Ilmu Sosial Dasar diberikan dalam rangka usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan guna mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosialnya dapat ditingkatkan, sehingga lebih peka terhadapnya.



     Sebagai salah satu dari Mata Kuliah Dasar Umum, Ilmu Sosial Dasar mempunyai tujuan pembinaan kepada mahasiswa agar :
๐Ÿ–‰ Memahami dan menyadari adanya kenyataan sosial dan masalah-masalah sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.
๐Ÿ–‰ Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
๐Ÿ–‰ Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan hanya dapat mempelajarinya secara kritis-interdisipliner.
๐Ÿ–‰ Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka penanggulangan masalah sosial yang timbul dalam masyarakat.

Contoh masalah sosial yang terjadi di masyarakat :
PENYEBARLUASAN BERITA HOAX! ๐Ÿ“ข
Penyebarluasan berita hoax adalah masalah sosial di era digital. Meskipun sebenarnya masalah ini sudah ada sejak jaman kuno, media digital membuatpenyebaran hoax makin intensif dan dengan mudah menjadi konsumsi publik. Berita hoax diproduksi oleh kelompok kepentingan tertentu dengan tujuan yang beragam, dari meraup untung finansial sampai memecah belah persatuan bangsa.
Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif.
Jika hal tersebut dibiarkan begitu saja, dikhawatirkan akan membahayakan generasi muda. Menyadari hal tersebut, sudah banyak kelompok yang secara proaktif mengajak masyarakat agar lebih cerdas menggunakan media sosial.
Menyebarkan atau memberikan informasi buruk di internet juga bisa terancam pidana pasal 310 dan 311 KUHP dan Undang-Undang ITE.
Selain itu, kita juga menyadari bahwa saat ini era e-commerce sedang bertumbuh pesat, maka dari itu sebelum membeli sesuatu dari internet sebaiknya kita memilih online shop yang terverifikasi dan bisa dipercaya.
Solusi : Peningkatan literasi media sosial, mencari komparasi berita dan wacana alternatif sebelum sharing di media sosial, memblokir / melaporkan akun-akun atau sumber berita yang menyebarkan berita hoax.

RENDAHNYA MINAT BACA ๐Ÿ“–
     Masalah sosial yang satu ini sekilas sepele, namun berdampak buruk bagi masa depan bangsa. Rendahnya minat baca berkorelasi dengan rendahnya antusiasme terhadap ilmu pengetahuan dan daya pikir kritis. Penyebab rendahnya minat baca pada tataran institusional adalah sistem pendidikan kita yang tidak mendukung peningkatan minat baca literatur kritis.
     
     Kata “literasi” memiliki makna yang luas dan kompleks. Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya dan pengalaman.

     Pada dasarnya, mungkin banyak orang berpikir bahwa membaca hanya akan menghabis waktu dengan percuma dan tidak bermanfaat, sehingga mereka berpikir lebih baik melakukan aktivitas yang lain dari pada membaca, padahal dengan membaca kita dapat menambah wawasan serta ilmu pengetahuan untuk memperkaya intelektual, terutama di era digital ini.

     Saat ini, hampir semua orang selalu menyalahkan teknologi sebagai penyebab anak tidak mau membaca dan apalagi menulis, sehingga budaya literasi semakin luntur di era digital yang marak dengan gawai atau gadget.
Solusi : Di masa sekarang, kita lebih akrab dengan telepon genggam, tablet, notebook atau laptop dan lainnya daripada buku. Berbagai permainan dan media sosial yang ditawarkan memang sangat menarik. Akan tetapi, membaca dan menulis juga tak kalah menarik jika dibiasakan sejak dini. Dan jangan lupa, di era digital ini justru tersedia banyak sekali buku-buku yang berbentuk softcopy, baik yang gratis ataupun yang berbayar tersedia di dunia maya yang dikenal dengan sebutan ebook, sehingga tidak ada alasan untuk kita mengatakan sulit mendapatkan buku atau bahan bacaan yang kita inginkan.
Mari kita budayakan literasi sejak dini, sejak saat ini, dari diri kita sendiri, dari keluarga kita sendiri dan dalam lingkungan terdekat kita di setiap hari kita! ๐Ÿ˜


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasus Pelanggaran Pajak PT. Indosat Multimedia (IM3)

Huawei Merilis Watch GT 2

Aplikasi Membaca dan Menulis : "BaTu"